Bismillah,,
Sekedar catatan singkat dari neng humera ba’da mengikuti tatsqif 5 Sept’ 2009 di ‘markas-daerah’ kemarin. Acara dilaksanakan dari jam 14.00 – 18.00 wib dilanjutkan dengan ifthar jama’i. Tema acara yang asli adalah “Peduli keluarga, Membangun Bangsa”, diisi oleh om-om dari tim ‘markas-wilayah’ Riau Kepulauan. Pemateri utamanya adalah Ust. Amiruddin Dahad. Materinya sebenarnya panjang dan luas. Bukan hanya soal anak, tapi juga mencakup pembahasan seluruh elemen yang membangun keluarga. Tapi karena daya-kecepatan-tulis yg cuma 40/km per jam, catatan neng humera yg paling lengkap ya yang dibagian anak. Dari tema acara udah jelas ini acara full of bapak2 en emak2. Dari acara ini saya juga baru tau kalo ada istilah Keluarga ASMARA [As-Sakinah, MAwaddah warRahmah].
Billahitaufiq. Hanya secuil catatan, semoga bermanfaat.
————————————————————————————————————-
Anak,, anugrah, hiasan, ujian, atau musuh? Menempati posisi manakah anak-anak dalam kehidupan orangtuanya. Apakah hanya menjadi anugrah sekaligus ujian, atau hanya sebatas ujian saja. Mendatangkan berkah atau malah mendatangkan kesedihan dan kebodohan. Mereka memiliki potensi dalam kehidupan oragtuanya, baik itu potensi yang membawa kebaikan, atau malah keburukan. Mereka dapat :
Berpotensi sebagai hiasan dunia
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” [QS. Al-Kahfi : 46]
Berpotensi sebagai Ujian atau Musuh
”Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [At-Taghaabun : 15]
”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [Al-Anfaal : 8]
Berpotensi sebagai Penyejuk Hati
”Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al-Furqaan : 74]
Seorang anak bahkan bisa menjadikan orangtuanya bakhil dan bodoh.
”Anak itu berpotensi untuk mendatangkan kesedihan, ketakutan, kebodohan, dan kebakhilan.” [HR. At-Thabrani, Al-Kabir, XXIV/241/Shahihul Jami’ ; 1990]
Kebodohan
Orangtua, khususnya kader dakwah, ada beberapa yang terkadang menjadikan alasan mengurus/mengasuh anak sebagai alasan untuk tidak menghadiri majelis ilmu. Terutama ummahat. Biasanya setelah punya anak, sedikit demi sedikit menghilang dari ‘peradaban’, alias tidak produktif lagi.
Padahal ada banyak ummahat juga yang sama-sama memiliki anak, sama-sama memiliki suami, tapi tetap kontributif dan produktif, sama seperti saat mereka kuliah dulu [termasuk MR ku]. Disinilah anak dapat menjadikan orangtuanya bodoh. Karena menjadikan orangtuanya merekayasa alasan untuk tidak menuntut ilmu.
Kesedihan dan Ketakutan
Menjadi kesedihan. Ketakutan. Kesedihan ketika si anak terlibat narkoba, kesedihan si anak karena tidak naik kelas, dan lain-lain. Juga menjadi ketakutan. Ketakutan kehilangan si anak.
Kebakhilan
Menjadikan orangtuanya bakhil. Membiayai keperluan anak dijadikan sebagai alasan untuk mengurangi/tidak bershadaqah. Padahal Allah telah menjamin tiap-tiap rezeki makhluk-Nya. Alasan rezeki juga kadang menjadikan orangtua untuk membatasi jumlah anak. Dikarenakan takut tidak bisa memberikan makan pada anaknya. Lebih parahnya lagi kadang yg berbicara ini orang yang terbilang mampu sebenarnya.
Mengambil sedikit catatan dari “dugem” kemarin. Pengalaman dari seseorang yang saya panggil Umi. Memiliki 8 anak. Suaminya bekerja di ‘markas’ daerah karimun. Saya panggil Abu. Abu dan Umi contoh kader-kader yang produktif dan kontributif terhadap kemajuan dakwah Karimun ditengah kesibukan dan kekurangan mereka. Kehidupan mereka sederhana. Lebih tidak, kurang juga ga terlalu. Anak nya yang pertama seumuran saya, baru lulus S1 Meterologi ITB, dua lagi masih kuliah, 2 lagi SMA, dan yang lain sekolah dasar. Subhanallah. Masih banyak contoh lain. Ini menjadi pelajaran bagi saya, juga semacam perbandingan. Mereka bisa, kenapa yang lain, yang menjadikan alasan rezeki untuk membatasi anak itu, yang menjadikan alasan anak untuk tidak bershadaqah, justru tidak bisa. Padahal belum tentu mereka juga memiliki tanggung jawab dakwah yang lebih berat seperti Umi dan Abu. Jadi ini bukan masalah punya anak banyak ataupun sedikit, tapi terletak pada kemauan dan keyakinan orangtuanya. Allahu a’lam bish showab.






.jpg)






RSS - Posts
Tiap manusia memiliki kondisi berbeda antara satu dengan lainnya. kita harus bisa berprasangka baik terhadap umahat yang (dilihat kasad mata aktivitasnya berkurang) kondisinya seperti itu. jangan samakan antara AKU dan DIA, seperti halnya amalan ABU BAKAR dan UMAR berbeda kondisinya.
ukhti akan bisa terbukti jika mengalaminya sendiri. nikahlah dengan cepat
Comment oleh andi — 10 September, 2009 @ 20:10
@ bang andi
tenang bang andi
ntar kalo ane nikah pasti di kirim kok undangan nya ke makassar
Comment oleh humaiRA Marby — 10 September, 2009 @ 20:10
jgn mau ukh, nikah dg cepat!
dg ikhwan doong…
hmm, jd pengen py anak (hiaaaaaahhhhhhh)
Comment oleh tari — 10 September, 2009 @ 20:10
assalamu’alaykum…
Ya Allah,,, segerakanlah jodoh 2 saudariku ini…
Sukses ya buat ukhty berdua…
Wassalam
Comment oleh Musaffir — 12 September, 2009 @ 20:10
Salam Takzim
satu lagi tulisan yang menggelitik jiwa, hingga keberanian mengisi komen. agar menjadikan tulisan teringat izinkan saya mengcopas untuk pribadi.
Salam Takzim Batavusqu
Comment oleh zipoer7 — 13 September, 2009 @ 20:10
Sayang anak….sayang anak…!!!!
Comment oleh Mas Joko Sableng — 15 September, 2009 @ 20:10
jangan cuma undangangya ukh, tiketnya juga……he…he
Comment oleh andi — 15 September, 2009 @ 20:10