Masih tak mengerti saya tentang makna emansipasi yang selalu dijadikan perisai oleh para feminis untuk men-sanasiniboleh-kan apa yang mereka usung. Emansipasi bablas. Cocoknya itu mungkin namanya. Terkhususnya jika kita melihat model wanita Indonesia saat ini, justru lebih barat dari wanita barat sendiri. Tak semua tapi tak sedikit juga.
Ya lihat saja diberbagai alat dan media, dari Video Klip, Kartun, film dari berbagai genre (termasuk yang mengaku-ngaku film berlabel religi), olahraga, Novel sampai Iklan panu, selalu wanita yang menjadi icon-nya. Dan lagi-lagi ironis kuadrat, wanita mengambil peranan penting dibalik fenomena ini, baik hanya sebagai boneka pemeran maupun pencetus. Alasan yang sering dipakai adalah bahwa hal ini merupakan hak wanita untuk mengekspresikan diri, kebebasan untuk berkarya, dan satu lagi alasan pamungkas : “ini bagian dari seni”.
Eksploitasi wanita justru dilakukan oleh kaum wanita sendiri. Wanita sudah tak sungkan lagi mengeksplor setiap bagian tubuhnya pada khalayak, baik itu melalui media visual, audio, ataupun tulisan. Dan penikmat hasil karya mereka ini pun bukan para wanita saja, tapi juga anak-anak dan laki-laki.
Di lain sisi banyak wanita yang susah payah berjuang untuk menjaga kehormatan dan marwah, tapi di sisi lain dengan enteng para pembawa panji-panji emansipasi bablas ini melepas pakaian dari badan mereka, percaya diri dengan hanya menggunakan secarik kain, dan merelakannya dinikmati orang banyak. Di layar film, sinetron, iklan, catwalk, nilai wanita tak lebih dari sekedar produk. Lantas apa bedanya dengan hewan? Karena zaman sekarang pun hewan berpakaian. Tau anjing nya Paris Hilton dan Geri Haliwell? Bahkan anjing mereka lebih lengkap pakaiannya dibanding pakaian majikannya. Ah, seni kah ini namanya? Orang-orang di Papua sana malah susah untuk mendapatkan penutup badan mereka, malah harus rebutan untuk mendapatkan baju bekas, lah yang di kota besar malah ga’ mau pakai baju. Kalau gitu tinggal di pedalaman saja.
Wanita ingin dihargai, namun pada nyata nya justru wanita lah realisator unggul pengobralan kehormatan kaumnya sendiri. Pelecehan wanita menjadi “perihal biasa”. Yang pertama adalah karena salah satu oknum pelecehnya adalah wanita sendiri. Tak ingin digoda, tapi pakaian tak dijaga. Tak ingin dilecehkan, tapi pemikiran dan prilaku justru melecehkan diri sendiri. Dan yang kedua pelecehan itu sendiri sekarang telah berubah nama menjadi banyak ragam nama yang artistik dan intelek. Terselubungkan dengan hal-hal yang bernama seni, emansipasi, brain, beauty, and behaviour.
Seperti halnya junk food yang kini telah ditinggalkan oleh masyarakat barat –yang notabene penciptanya-, pun kini sebagian dari mereka juga telah meninggalkan paham-paham yang –lagi-lagi- notabene para kreatornya berasal dari bangsa mereka sendiri. Sebagian wanita-wanita barat kembali menyadari bahwa tugas-tugas penting dipundaknya bukanlah suatu kehinaan, tidak lagi mengkambing-hitamkan laki-laki, seni, ataupun keadaan untuk pembenaran emansipasi dan kebebasan bablas yang semula mereka usung.
Begitu jelas bahwa feminisme, genderisasi, dan teman-temannya sebenarnya hanyalah onggokan paham buangan –sudah tidak terpakai lagi- dan sekarang ditelan mentah-mentah oleh para wanita kita. Wanita-wanita yang mengaku cerdas dan berpendidikan tapi entah sadar atau pingsan menelan bulat-bulat paham-paham sampah yang sudah tidak dipergunakan lagi oleh sebagian masyarakat barat yang otaknya mulai berfungsi lagi.
Sudah terlalu banyak kondisi ironis yang terjadi. Kalo dulu kalimatnya gini : “ngomong salah dikit, siap-siap aja dipolisikan”. Tapi kalo sekarang beda lagi kalimatnya : “ngomong bener dikit, siap-siap aja dipolisikan”. Pun jangan kira kita tak ditegur-Nya. Teguran itu telah datang, bumi kembali memuntahkan lumpur panas di tanah zamrud khatulistiwa ini. Permasalahannya adalah apakah yang ditegur itu sadar atau tidak kalau lagi ditegur? Dan sementara teguran itu datang silih berganti, semakin banyak wanita-wanita yang memilih telanjang.
Allahua’lam bish showab,, -selalu dalam rangka perbaikan diri-






.jpg)






RSS - Posts
ya sih, di mana2 byk ‘donat berlalat’. musibah yg lbh buruk dr ’sekadar’ lumpur adalah hilangnya rasa malu, krn itu salah satu indikasi Allah marah pd kita. para mukmin jg harus hati2, krn adzab tdk hy mnimpa org2 zhalim, tp jg org2 briman. krn mrk shalih sndiri, tdk mnyampaikan! (duh, bawel deh gue!)
Komentar oleh tari — 4 Juli, 2009 @ 20:10
ya udah, kalo gitu yuk mari kita cetak generasi rabbani sebanyakbanyaknya
Komentar oleh dinie — 6 Juli, 2009 @ 20:10
terserah…
(do not mean anything)
keep good work
Komentar oleh soegie — 7 Juli, 2009 @ 20:10
Peliharalah dirimu da keluargamu dari api neraka… dimulai dengan memperkenalkan “fitrah” Islam pada semua… dimulai dari orang2 terdekat kita…
— tulisannya bagus, keep u’r bashiroh
Komentar oleh Rudi Ikhwan — 13 Juli, 2009 @ 20:10
Itu ilustrasinya kok kayaknya gambar orang jawa…? Saya tersinggung….. Wuehe..he..he..he…
Komentar oleh Djoko Sableng212 — 16 Juli, 2009 @ 20:10
Setuju. Ini contoh pemikiran wanita Muslim modern yang masih menjunjung tinggi derajat dan martabat kaum wanita. Semoga di Indonesia wanita-wanita seperti anda belum punah.
Komentar oleh adi — 31 Juli, 2009 @ 20:10
Saya salah satu orang yang tidak setuju dengan eksploitasi thd perempuan, itulah mengapa saya setuju perempuan merdeka atas pilihannya sendiri. Mengenai apakah perbuatannya tersebut menurut kacamata agama salah, tapi sejauh tidak melanggar hak-hak orang lain it’s ok. Karena urusan dosa adalah masing-masing, sementara tugas para da’i adalah memberikan pencerahan dengan hikmah dan contoh yg baik, bukan dengan pentungan dan teriakan kafir, sesat dsb.
Keragaman yg diciptakan Allah SWT harusnya menjadikan manusia semakin kritis dan cerdas sehingga terbebas dari virus “kacamatakudaisme”, karena nilai-nilai universal adalah nilai yang diusung oleh Islam, sebagai Agama yg tidak menjadikan pedang dan darah sebagai media dakwah. Perbedaan adalah kodrat, dan dengan menyikapi secara bijak kilau keindahannya akan terasa sangat bermakna. Biarkan orang meyakini dan memeluk Islam karena kesadarannya, bukan karena ketakutan akan serbuan mayoritas atau stigma-stigma konyol.
Karikatur yang dibuat sangat bagus, hanya sayang sekali, esensi emansipasi bukan yang digambarkan pada kartun tsb, dan jelas dialog kartun tsb sangat sesat. Emansipasi berbeda dengan feminisme, dan feminisme bukan sebagaimana yang digambarkan dalam tulisan di atas. Feminis juga bukan hanya yg jenis kelamin vagina, karena laki-lakipun bisa menjandi feminis. Tapi ingat, feminis juga bukan feminim.
Komentar oleh andi — 6 Oktober, 2009 @ 20:10
@ andi
bebas tapi tanpa menanggalkan nilai-nilai agama. karena yg seperti anda bilang, Islam itu universal, juga integral, menyeluruh, ke seluruh sendi-sendi kehidupan. sampai di wc pun Islam memiliki adab, peraturan. apalagi soal pakaian. setiap peraturan pun mengandung kebaikan.
perbedaan ini dalam masalah apa mas. kalo yg tidak boleh diperdebatkan itu perbedaan dalam hal khilafiyah,furu, cabang. beda perkaranya jika hal tersebut sudah diketahui hukumnya. contohnya, seperti sholat ataupun berjilbab. hukum keduanya sudah jelas,wajib. termaktub dalam Al-Quran, tidak dikerjakan ya sudah pasti salah. kalo alesannya yg jilbab belum tentu bener, yg sholat jg belum tentu bener, ya urusan niat sholat atau berjilbab itu sudah masuk wilayah Allah. jgn merekayasa alasan untuk pembenaran tdk melaksanakan kewajiban dengan persoalan yg sebanarnya bukan wilayah kita.
dr penafsiran feminisme yg berbeda2, pada intinya sama, semuanya sama-sama mengusung slogan emansipasi
kalo masalah karikatur, mungkin jika saya tdk lancang, maksud dari pembuatnya, baik gambar dan dialog yg ada d karikatur tersebut menggambarkan salah satu bentuk emansipasi kebablasan yg dibahas ditulisan ini.
jika menilik sejarah pun, sebelum kartini lahir, sebelum emansipasi bergaung di seantero negeri ini, laksamana keumalahayati, cut nya’ dien, telah membuktikan bahwa Islam ternyata menempatkan wanita pada posisi yg mulia.
watawashaubilhaq watawashaubish shabr, Islam mengajarkan untuk saling mengingatkan, bukan membiarkan, walaupun pada akhirnya pilihan ada di tangan masing2 personal, tapi bukan berarti itu menjadikan kita untuk tdk saling mengingatkan,,
Komentar oleh humaiRA Marby — 12 Oktober, 2009 @ 20:10