If you can't be a poet,, be a poem,,

14 Mei, 2009

POLITAINMENT : ARTIS POLITIK ARTIS

Diarsipkan di bawah: Sebuah catatan — humaiRA Marby @ 20:10

Agak  tergelitik pagi ini dengan muatan berita di salah satu infotainment. Kebetulan hari ini saya dinas pagi. Dan kebetulan TV yang letaknya di ruang depan kantor terjangkau oleh mata dari sudut mana aja, kecuali dari ruang pimpinan tentunya. Pagi sampai malem TV on terus di kantor. Siaran dari channel ke channel pun sama, acara gosip, pagi sampai sore.

Dan ternyata saudara-saudara, di Indonesia ini kalo pengen muka masuk layar infotainment ga’ perlu jadi artis dulu. Jadi politikus pun ternyata sekarang bisa masuk ke ranah ini. Begitulah reliatanya. Politik di negeri ini semakin berwarna saja, walau warna hitam tetap mendominasi. Berita politik tak hanya menghiasi siaran berita saja akhir-akhir ini, sekarang malah sering  muncul di Infotainment. Beritanya pun bukan tentang prestasi, lebih banyak tentang info pribadi pejabat terhormat, terutama tentang “wanita”.

Pagi ini, selain tentang “wanita” tentunya, Senayan yang dikejar-kejar ratusan Caleg seluruh Indonesia kini dihiasi wajah-wajah baru tapi lama, para artis. Ternyata mereka pun tak mau ketinggalan untuk “rebutan” kursi di DPR.

Yang menggelikan saya sebenarnya komentar salah satu artis wanita yang juga caleg Partai Demokrat tentang program kerjanya. Saat diwawancarai mengenai keraguan masyarakat Indonesia terhadap kredibilitas artis jika menjadi anggota dewan nanti, Artis yang dulu pernah mengeluarkan VCD aerobic ini (kalau ga’ salah,, berarti bener ya?) menjawab, menurutnya artis memiliki 3 modal yang cukup untuk maju ke pentas politik Indonesia, yakni modal uang (ga’ perlu ngutang, ini kata dia lho), modal sosial (mengurangi modal publikasi), dan modal budaya (terkait pekerjaannya). Bagian ini tak terlalu menggelitik, walau saya tetap bertanya-tanya, memang cukup dengan 3 modal ini saja? Saat ditanya tentang apa yang dilakukannya jika telah bener2 “ngantor” di Senayan nanti, (nah ini dia bagian yang bikin dahi saya mengernyit), selain tentunya ingin mensejahterakan rakyat Indonesia (motif mayoritas), 2 program yang ia sebutkan adalah Women’s Day dan English Day.

Bagi saya itu program yang tak sepadan dengan statusnya sekarang sebagai seorang wakil rakyat. Karena kalau ngomongin program, jika dibandingkan dengan “dia yang sekarang wakil rakyat”, saya rasa teman-teman mahasiswa jauuh lebih kreatif lagi. Saya contohkan saja, pertengahan 2007 lalu teman-teman HMI cabang Batam mengadakan acara Pemberdayaan Wanita Marjinal (PSK) dengan seminar reproduksi dan kesehatan serta melatih mereka membuat kerajinan tangan selama tiga hari, bahkan hasil kerja mereka dibeli oleh masyarakat. Malah teman-teman KAMMI komsat batam pun sudah memiliki Desa Binaan dan TPA sendiri sejak tahun 2008 lalu. Apalagi kalau cuma ngomongin English Day. Organisasi setingkat Himpunan Mahasiswa jurusan pun sudah mempraktekkannya, tak perlu jadi anggota DPR.

Saya pikir wajar jika rakyat Indonesia bertanya-tanya menyoal tentang kapabilatas mereka. Apalagi mayoritas artis-artis ini (semua kali ya?) telah lama berdomisili di Jakarta. Tapi justru daerah pemilihan mereka tersebar dimana-mana, rata-rata di daerah asal masing-masing. Ada yang tiba-tiba di Sumatra selatan, subang, banten, jawa barat, dan banyak lagi. Tapi saya sebenarnya bertanya-tanya juga, dirunut-runut mereka ini kan menang karena suara rakyat yang memilih mereka (mudah-mudahan), tapi kenapa pula rakyat sendiri masih bertanya-tanya juga tentang kapabilatas mereka? Atau mungkin yang bertanya-tanya ini yang ga’ milih mereka kali ya (lah kok jawab sendiri hehe,,).

Politik negeri ini memang penuh tanda tanya. Tanda Tanya yang dijawab janji minus realisasi. Terlepas ragu-tidak nya masyarakat terhadap kemampuan mereka, waktu lah yang akan membuktikan. Meski sebelum mereka “ngantor” oktober nanti sebagian tanda tanya telah ada yang terjawab. Allahua’lam bis showab,,,

& Komentar »

  1. Saya rasa sang artis aerobik ini baru aja kasih tau tipsnya kenapa dia mudah melenggang ke Senayan. Menurut saya nggak segampang itu ya, saya rasa beberapa pemilih menganggapnya “pinter”, makanya ada aja yang milih dia. Pandangan naif saya berpendapat bahwa orang nggak mungkin banyak pemilihnya kalo otaknya nggak memesona. Karena kalo artis bodoh masih dipilih juga, berarti rakyat pemilihnyalah yang tidak cerdas.

    Komentar oleh Vicky Laurentina — 18 Mei, 2009 @ 20:10

  2. menurut ana klo publik figurnya suka hura-hura gmana rakyat yang mau dia pimpin

    Komentar oleh mujianto — 9 Juni, 2009 @ 20:10

  3. Waaa….senayan kita udah jadi ‘kantor figuran’ yaaa…:)
    Hidup mahasiswa… :D . == lhoo==

    Komentar oleh salam revolusi — 16 Juli, 2009 @ 20:10

  4. heheee….
    mantab…

    Komentar oleh Cak PepeNk — 22 Juli, 2009 @ 20:10


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.