Melihat dari sisi lain,,,

2009 Januari 6
by humaiRA Marby

Saya baru saja membaca blog salah seorang adik saya tersayang. Tentang curhatnya mengenai masalahnya dgn salah seorang Dosen di kampus. Kita panggil dosen ini Mr. X.

Membaca ceritanya, saya jadi teringat dulu, saat pertama kali di ajar Mr. X. Nasib kami hampir sama. Hari pertama Beliau mengajar kisah saya langsung tragis, di usir dari kelas. Jika adik saya ini telat 13 menit, maka saya telat 1 menit. Ya! Hanya 1 menit. Dan beliau langsung berkata, “Anda telat 1 menit, Silahkan anda keluar”. Dengan watak saya yg keras dan sensitif, rasanya SAKIT.

Masalah pun berlanjut dan berlarut. Saya sering kena nya di soal “jilbab”. Ya! Sama seperti adik ku ini. Selalu kalimat2 : “Percuma aja berjilbab! atau “Gimana sih jilbaban kaya’ gitu”. MARAH jelas. Karena masalah nya bukan di saya. Kadang ada beberapa masalah yg terkait Masjid Kampus atau anggota2 LDK kampus yg bermasalah (berjilbab) ditimpakannya ke saya. Mungkin karena jilbab saya yg berkibar itu (Lha, memang apa hubungannya?). Saya pun tak tau. Saya dan teman2 kadang panas juga dengarnya. Terkadang masalah kecil selalu pelampiasan ke jilbab (lagi!). Itu yg membuat jengkel. Akhirnya bawaan ketika bertemu pun hanya kebekuan, kebencian, dan marah.

Kalau masalah nilai E. Saya kira ini bukan yg pertama. Salah seorang kakak kelas saya (ikhwan, AK’04) pun pernah sampai ngulang 1 tahun gara2 sikap frontal nya dengan Mr. X ini. 2 orang kakak kelas (akhwat, AK’04) pun harus nangis dan tahan kuping di kelas beliau. 1 orang kakak akhwat lagi yg berpredikat cum laude dengan IPK 3,9 harus gigit jari dengan nilai C. Ketiganya memakai jilbab. Dan jika berhadapan dengan yang berjilbab. Lagi2, kalimat yg keluar adalah “mending di buka aja jilbabnya.” Begitulah cerita dari kakak kelas saya itu. Dan salah satu dari mereka menyimpan dendam sampai sekarang. Apakah dendam dia itu berguna sekarang? Sayangnya sama sekali tidak. Sikap tidak terpuji tidak akan berakhir baik. Itu sudah ketetapan Allah.

Tapi jika ditanya pada kakak saya yg ngulang 1 tahun itu, bagi dia nilai E bukan neraka. Karena ternyata terbukti dia duluan yg dapat kerja dibanding teman2 nya yg lulus setahun sebelumnya. Rezeki milik semua makhluk yang sabar dan istiqomah.

Ukuran pintar pun sebenarnya bukan dari nilai. Toh, Allah pun menilai kita dari ketaqwaan kita. Bukan siapa yg memiliki IPK paling tinggi. Suatu saat hal itu akan terbukti. IPK bukan segalanya. Rugi anda 3 tahun jika hanya berkutat pada modul2 kuliah dan kejar mengejar dgn nilai.

Tertekan? Ya! Saya dulu juga sempat merasa seperti itu. Saya sempat merasa sendiri dan tertekan. Karena saya ga’ punya teman yg satu fikroh dan satu gerak. Bergerak selalu sendiri. Hilang timbul tenggelam di kelas. Rapat dan kegiatan. Selalu ditanya2, “ira kok sering ngilang” atau “kemana aja tadi”. Kadang teman2 bertanya disertai pandangan “ni anak ga’ peduli sama kuliahnya ya?” Jelas saja tertekan. Tapi tidak berlarut. Entah saya yang bebal atau memang iya bebal. Saya hanya ga’ mau rugi masa 3 tahun hanya saya habiskan di depan muka dosen.

Bagi saya, yang disebut Dosen atau Guru bisa siapa saja. Tukang bakso yg berlari mengembalikan uang kembalian yg berlebih pada pelanggannya bisa juga di sebut guru, dia adalah Guru Kejujuran. Seorang Ayah yg rela bekerja keras menempa besi demi makan anak istri juga adalah seorang guru, dia adalah Guru Keikhlasan dan Kerja Keras. Dari semut, lebah, penguin, laba-laba, mereka adalah Guru. Guru2 yg mengajarkan tentang kesetiakawanan, kerjasama, kesetiaan dan kasih sayang.

Dan jika kita bisa mengambil hikmah dari masalah ini, well, berarti Mr. X tidak hanya berhasil mengajarkan kamu Akuntansi adik ku sayang. Secara tidak langsung Beliau telah berhasil mengajarkan kamu tentang meredam amarah, menjaga kesabaran, dan ikhlas. Tapi yg perlu di garis bawahi adalah berhasil atau tidak itu tergantung pada sikap yang kita ambil untuk menghadapi masalah ini. Masalah itu adalah peluang. Itu kata Dosen Favorit saya waktu kuliah dulu, Pak Hendra, Dosen Prilaku Organisasi. Peluang untuk belajar. Peluang untuk memperbaiki. Peluang untuk kemenangan.

Dulu saya termasuk jajaran yg frontal dengan Mr. X. Tapi itu untuk beberapa waktu. Entahlah, saya hanya merasa percuma menghadapi sifat Beliau dengan sikap marah. Marah dan egois tidak akan melahirkan apapun kecuali keburukan. Jika tidak percaya, buktikan saja sendiri. Dan Allah memang Maha Lembut dan Maha Penyabar. Sikap beliau akhirnya melunak. Saya tak melakukan apa2. Tiba2 ketemu, ngobrol (sebenernya MALES, tapi akhirnya saya coba memupus ego dan benci itu), dan kemudian satu yg saya tangkap dari Beliau. Sepi dan ingin teman bicara.

Beliau tak punya anak. Belum menikah dan hidup sendiri. Usia telah mencapai angka 40. Yah, saya belum bisa membayangkan. Dia hanya ingin ngobrol. Itu saja. Kami membahas buku, 1 hal yg TERNYATA menyatukan kebekuan kami selama ini. Jika ditanya apakah nyaman di dekat beliau. Tidak. Lalu kenapa masih bisa tahan? Jawaban sederhana. Saya hanya membayangkan jika di posisi Beliau apakah saya mampu tetap berjalan tegak dan menyapa orang2 meski di benci. Jadi saya putuskan untuk menyayangi Beliau dengan segala kekurangannya. Apakah tetap bermasalah? Tetap sayangnya. Apakah saya rugi? TIDAK. Sama sekali tidak. Karena begitu banyak pelajaran yg Allah beri pada saya melalui masalah saya dengan Beliau yg berantai2. Cobalah lihat dari lain sisi.

Menurut saya, letak masalah sebenarnya pada si Bapak yang selalu berbicara, tapi tak mau mendengar. Masalah ini dulu sempat teratasi. Ya, seingat saya dan teman2 dulu, Beliau sempat berkata “Saya sudah berubah sekarang” saat di depan kelas. Dan memang iya. Beliau mulai tidak terlalu strange dan sudah mulai mencair. Mulai mau menerima kritik jika salah. Suasana kelas menjadi akrab. Terakhir ulangtahun nya tahun lalu, 13 januari 2008. Kami sekelas membuat sebuah surprise untuk Beliau dan berakhir dengan tangis haru Beliau. Satu yang saya tangkap. Beliau butuh cinta dan perhatian di dalam kesendiriannya.

Tapi Itu di kelas saya. Saya tak tau juga di kelas2 adek2 saya yang sekarang. Yang saya dengar angkatan 2006 ke atas bermasalah dengan beliau. Apakah penyakit nya itu kumat lagi atau gimana dan penyebabnya apa? I dunno,, Saya yang lemah ini hanya bisa memberi masukan bahwa inti masalah pada komunikasi. Harus berani bergerak dan berbicara, tapi bukan dengan marah dan saling menyalahkan. Diam dan lari dari masalah, justru menghasilkan kehampaan, atau bisa jadi menambah masalah. Berbicara dan duduk bersama untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menambah masalah. Silahkan acungkan tangan siapa yg mau jadi pelopor.

At last, just remember dear, dalam setiap masalah selalu ada pelajaran. Dari seorang penjahat pun kita bisa menuai pelajaran. Bagi Kaum yg berpikir. Allah Maha Bijak. Beliau yg sempat saya benci, justru Beliau yang mengajarkan saya secara tidak langsung makna menerima apa adanya dan menghargai kekurangan. Pelajaran yg sangat berharga. Bisa jadi Mr. X dikirim Allah di kehidupan saya dan kita agar kita bisa belajar dan menempa diri untuk masalah2 kehidupan berikutnya yang MUNGKIN SAJA lebih berat dari sekarang. Allahu a’lam.

Akhirul kalam, menahan amarah dan mengalah bukan berarti kalah adik ku sayang. Memaafkan dan meminta maaf pun bukan perbuatan hina. You know that. Orang yang kuat bukan mereka yang besar badan dan berotot. Orang yang kuat adalah orang yang sabar dan dapat menahan amarah. Itu pesan Rasulullah lho, bukan kata kakak. Dan orang2 yang seperti itulah yang disebut dengan Pemenang Sejati. Dan kamu adalah pemenang sejati. Di tahun baru kemarin kamu sudah membuktikannya. I LOVE YOU LILLAH FILLAH J

4 Responses leave one →
  1. 2009 Januari 7

    sapa nama dosennya?

    biar kita urus dia…mau cara baik2 ato dengan sedikit kekerasan?

  2. 2009 Januari 7
    abdulah mubarak permalink

    sabar-sabar saja, akh agus. ..

    btw, di mana rumah dosen itu biar kita kasih pelajaran ..!!
    Lohhhh kok jd ikut2an.

    mmg di mana2 kayaknya byk ya org yg islam pobhia baik dia dosen ato bukan. pngalaman kita dl wktu msh kul jg dosen kayak bgtu akan mati kutu bila brhadapan yg selevel ato yg diatas dia baik jenjang pndidikan mupun yg lainnya.

    kita mngadakan seminar yg menghadirkan pembicara yg mpunyai kecakapan, pilih yg brjilbab kl perlu bercadar sekalian (dl kita undang DR Gina puspita dan suaminya DR Risdham Efendi IPTN, lulusan Perancis ahli pesawat ulang alik dan rudabalistik yg kedua zaman dl suka berpakaian jubah dan bercadar). Alhamdulillah setelah itu tanggapan dosen2 jd baik. Mgk bs di aplikasikan dg cara yg brbeda. Tp kl emang dosen itu nonmuslim, percuma aja emang dr sononya dah mati tu hati. Cuekin aja. Mo dpet E mo DO, emang kuliah cuman di sono doang.

  3. 2009 Januari 7

    aahhh.. duduk dipojokan kelas, tidak dianggap itu menyebalkan kk. bisa mengalah dan maaf. tapi bukan dengan beliau. yang terakhir kabar yang saya dengar. beliau menceritakan saya dikls salah satu senior dan mengatakan saya hanya penampilan saja yang meyakinkan sedangkan otak dan akhlak KOSONG ! bisa kah bersabar ??

  4. 2009 Januari 7
    humaira marby permalink

    ambil sikap bersabar namun tetap bergerak
    jangan ambil sikap diam ditambah lagi ga sabar
    saran kk bapak itu di ajak ngomong, ga mesti desi sendiri
    ajak tmen2 lain jg
    jgn takut klo benar, takut itu kalo salah
    aplagi beliau udah ghibah,, innama’ash shobirin
    Allah bersama org2 yg sabar dan juga benar

    ajak ngomong secara baik2
    klo bisa satu kelas d ajak ngomong tatap muka dgn Beliau
    klo beliau di diamkan saja, ga selesai masalah
    di ajak ribut pun sama aja, nambah masalah lagi

    seperti saran Qa’ agus di atas, pake cara yg baik2 dulu
    klo ga bisa juga, brarti qta utus saja Qa’ agus dan Abdullah utk menghadap Beliau, secara mereka yg keliatan napsu bwt nghajar,,

    dan mengenai kata maaf,,
    ehem,, kk pernah baca ttg kata “maaf memaafkan” di blog dessy,,
    mungkinkah sekarang Allah sedang menguji dessy atas apa yg telah dessy ucap dan tulis,,? luv u,,

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS